Venezuela Membara: Ketika Demokrasi, Minyak, dan Ambisi Global Bertabrakan

Dunia kembali menahan napas. Kali ini, sorotan tajam tertuju ke Amerika Latin—tepatnya Venezuela. Negara yang kaya minyak ini kembali menjadi panggung konflik besar, bukan sekadar konflik domestik, melainkan pertarungan kepentingan global yang melibatkan Amerika Serikat, Rusia, dan Cina.

Pasca serangan militer Amerika Serikat ke wilayah Venezuela, dilaporkan sedikitnya 80 orang tewas, dan angka ini berpotensi terus bertambah . Situasi semakin mencekam ketika muncul kabar bahwa Amerika Serikat bersiap melakukan operasi darat jika pemerintahan Venezuela tetap bertahan.

Dalih Perang: Narkotika atau Kepentingan Lama?

Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, mengklaim bahwa serangan ini bertujuan memerangi kartel narkotika. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dituduh memanfaatkan jaringan narkoba untuk mengancam keamanan Amerika.

Namun, sejarah mengajarkan kita untuk bersikap kritis.

Klaim ini mengingatkan dunia pada invasi Irak tahun 2003. Saat itu, Amerika Serikat menyerang dengan alasan senjata pemusnah massal—senjata yang hingga hari ini tak pernah benar-benar ditemukan . Trauma kebohongan itu masih segar di ingatan publik internasional.

Minyak: Magnet Utama Venezuela

Sulit menampik satu fakta penting: Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 300 miliar barel, bahkan melampaui Arab Saudi . Ironisnya, akibat sanksi Amerika, Venezuela justru kesulitan menjual minyaknya ke pasar global.

Cina dan Rusia menjadi pembeli utama—dua negara yang berani melawan sanksi Washington. Di sinilah konflik menemukan akar terdalamnya. Minyak bukan hanya sumber energi, tetapi alat tawar geopolitik.

Banyak pengamat menilai bahwa isu narkotika hanyalah legitimasi moral. Sasaran sesungguhnya adalah kontrol atas sumber daya energi Venezuela .

Pelanggaran Hukum Internasional?

Dari sudut pandang hukum internasional, tindakan Amerika menuai kritik keras. Tidak ada mandat PBB, tidak ada undangan resmi dari pemerintah Venezuela, dan tidak ada konsensus global yang membenarkan pemboman tersebut .

Ini memperkuat stigma lama: Amerika Serikat sebagai “polisi dunia” yang bertindak sepihak.

Ancaman Konflik Kawasan, Bukan Sekadar Negara

Jika perang ini meluas, dampaknya tidak lagi berskala nasional. Venezuela memiliki sekutu di kawasan Amerika Latin. Eskalasi bisa menyeret negara lain dan membuka babak baru konflik regional—bahkan ada yang menyebutnya sebagai pemantik Perang Dunia Ketiga, jika kekuatan besar ikut turun tangan .

Sejarah Irak dan Afghanistan menjadi pengingat pahit: ratusan ribu nyawa bisa melayang dalam perang yang dibungkus narasi “demokrasi” dan “keamanan global”.

Politik Boneka dan Masa Depan Venezuela

Pasca penangkapan Nicolas Maduro, Amerika Serikat mulai membuka wacana pemerintahan transisi. Beberapa nama oposisi yang dekat dengan kepentingan Amerika dan Israel mulai dimunculkan sebagai calon pemimpin baru Venezuela .

Jika skenario ini berhasil, Venezuela berpotensi berubah dari negara yang anti-imperialisme menjadi proxy kekuatan Barat—sebuah pola lama yang kembali terulang.

Penutup: Dunia Perlu Belajar dari Sejarah

Venezuela hari ini bukan hanya soal Maduro. Ini adalah cerita tentang kedaulatan, sumber daya alam, dan wajah asli politik global. Sejarah telah menunjukkan bahwa perang atas nama stabilitas sering kali berakhir dengan kehancuran kemanusiaan.

Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang benar atau salah, tetapi:

Akankah dunia kembali diam, atau akhirnya belajar dari luka masa lalu?