Selama ini, perhatian dunia terhadap Timur Tengah banyak tersedot ke Gaza dan Suriah. Namun di balik hiruk-pikuk konflik tersebut, ada pertarungan kepentingan yang tak kalah panas dan strategis: ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman. Konflik ini bukan sekadar soal perang saudara Yaman atau perlawanan terhadap Houthi, melainkan menyentuh inti perebutan kekuasaan geopolitik dan jalur perdagangan maritim dunia.
Yaman: Negara Satu, Kepentingan Berlapis
Secara formal, Yaman masih satu negara. Namun secara politik dan militer, Yaman terbelah antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Bara konflik lama ini tidak pernah benar-benar padam sejak penyatuan pasca runtuhnya Uni Soviet.
Di Yaman Selatan, muncul kekuatan bernama Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang secara terang-terangan didukung Uni Emirat Arab. Kelompok ini mendorong agenda separatisme: membentuk Yaman Selatan sebagai negara sendiri.
Bagi Uni Emirat Arab, STC bukan sekadar mitra lokal, melainkan instrumen geopolitik.
Mengapa Saudi Menentang Pemisahan Yaman Selatan?
Arab Saudi memandang rencana pemisahan Yaman sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Jika Yaman terpecah:
- Houthi di Yaman Utara berpotensi semakin kuat
- Iran akan lebih leluasa mengonsolidasikan pengaruhnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan Saudi
- Stabilitas perbatasan selatan Saudi berada dalam risiko serius
Inilah sebabnya Saudi bereaksi keras, bahkan sampai melancarkan serangan udara ke pelabuhan Mukalla, yang justru menargetkan kepentingan militer sekutu UEA di Yaman. Langkah ini menandai retaknya koalisi Saudi–UEA yang sejak 2015 bersama-sama memerangi Houthi.
Kepentingan Uni Emirat Arab: Laut Merah dan Jalur Dagang Dunia
Berbeda dengan Saudi yang fokus pada keamanan darat, UEA bermain di ranah geomaritim. Ambisi utama UEA adalah menguasai dan mengamankan:
- Teluk Aden
- Laut Merah
- Akses menuju Terusan Suez
Wilayah-wilayah ini adalah urat nadi perdagangan global, jalur tercepat dari Asia menuju Eropa. Menguasai pelabuhan dan garis pantai di Yaman Selatan berarti memiliki leverage ekonomi dan politik terhadap Amerika Serikat, Cina, hingga Rusia.
Tak heran jika UEA sangat berkepentingan terhadap:
- Pelabuhan Mukalla
- Provinsi Hadramaut (80% cadangan minyak Yaman)
- Kekuatan STC sebagai proksi lokal
Segitiga Panas: Yaman Selatan – Sudan – Somaliland
Konflik Yaman tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan pola yang lebih besar. Dalam diskusi geopolitik, terlihat jelas adanya segitiga kepentingan:
- Yaman Selatan (Teluk Aden)
- Sudan (pantai panjang Laut Merah)
- Somaliland (pelabuhan strategis Berbera)
Ketiganya berada di dua “bibir” Laut Merah. Uni Emirat Arab diketahui memiliki investasi besar dan pengaruh militer tidak langsung di ketiga kawasan tersebut. Bahkan, pengakuan Israel terhadap Somaliland dinilai sebagai bagian dari skema besar untuk membuka dan mengamankan jalur maritim menuju Israel dan Mediterania.
Bukan Soal Ideologi, Tapi Ekonomi dan Kekuasaan
Penting dicatat, dukungan Uni Emirat Arab terhadap separatisme Yaman Selatan bukan karena ideologi atau solidaritas, melainkan:
- Kepentingan ekonomi
- Penguasaan pelabuhan strategis
- Diversifikasi sumber daya pasca penurunan peran minyak
Dengan cadangan minyak sekitar 3 miliar barel, Yaman Selatan memang kecil dibanding Saudi, tetapi sangat signifikan bagi negara berkembang dan aktor regional seperti UEA.
Masa Depan Yaman dan Timur Tengah
Konflik Saudi–UEA di Yaman menunjukkan satu hal penting: Timur Tengah hari ini bukan hanya medan perang ideologi, tetapi arena perebutan jalur dagang dan kekuatan maritim global.
Jika Yaman benar-benar terpecah:
- Saudi menghadapi ancaman keamanan jangka panjang
- Iran dan Houthi berpotensi menguat
- UEA memperluas pengaruh ekonominya
Pertarungan ini belum berakhir. Justru, ia baru memasuki babak yang lebih kompleks dan berbahaya.
